Tampilkan postingan dengan label Teropong Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teropong Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Klepon Obat Penangkal Bisul


Siapa yang gak tahu Kue Jajan Tradisional Klepon..? hmmm...kue bentuk bulat kecil terbuat dari ketan yang berisi gula merah ini makin mak nyus rasanya bila ditaburi parutan kelapa.

Entah darimana awalnya, konon ada mitos bahwa kue klepon ini ternyata ampuh untuk menyembuhkan dan menangkal munculnya bisul pada si penderita. Sebetulnya saya kurang percaya, tetapi pada beberapa waktu lalu ada tetangga yang bisulan. Sudah di bawa ke dokter juga diberi pengobatan lain tetapi setelah sembuh selang beberapa minggu kambuh lagi. saat itulah para tetangga menyarankan untuk membuatkan kue klepon dan dibagi ke semua tetangga sebagai banca'an atau sedekah jajan.

Nah, sehari setelah acara banca'an klepon, bisul langsung pecah dan keluar mata bisulnya, lalu secara cepat berangsur sembuh bahkan sehat sampai kini tak bisulan lagi.

Kisah yang lain adalah salah satu karyawan di tempat kerja saya. Tadi siang sempat ke Jamsostek untuk berobat tapi kata teman-teman lain sebaiknya diikuti banca'an Klepon.
Ha...??? lagi-lagi Klepon yang disebuat buat penyembuh dan penangkal bisul.

Hmmmm...jadi percaya gak percaya nih. Gimana kawan blogger, apa ada yang sudah membuktikan mitos Klepon ini...??

Sabtu, 03 September 2011

KETUPAT LEBARAN | Filosofi Sunan Kalijaga



Melihat ketupat lengkap dengan sayur santan, rendang, opor ayam...wow rasanya menggugah selera. lebaran di negeri kita ini benar benar unik karena ada budaya mudik dan makan ketupat yang hampir tak ada tradisi ini di seluruh dunia.

Mudik adalah bentuk silaturrahim akbar ke kampung halaman agar kita tak lupa dengan jati diri, asal usul juga mempererat tali persaudaraan. Sedangkan ketupat adalah menu pelengkap sebagai hidangan nasional saat lebaran meskipun ada beberapa daerah yang membuat ketupat setelah tujuh hari puasa syawal atau Lebaran Ketupat, termasuk di daerah saya, Lamongan.

Ketupat atau orang Jawa nyebutnya KUPAT adalah tumbuh dari filosofi Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau memang penggagas syiar Islam lewat seni dan budaya karena masyarakat saat itu sangatlah sulit untuk berpindah dari tradisi nenek moyang yang lebih banyak ke syirik dan animisme. menanamkan iman tauhid perlu berbagai macam metode pendekatan agar bisa diterima oleh mereka.

Inti dari Filosofi Kupat adalah LAKU PAPAT (Empat Tindakan) yakni ;

Lebaran : Lebar atau usai sudah waktu kita berpuasa selama 1 bulan
Luberan : Luber atau lebihkan atau sisihkan harta kita buat berzakat
Leburan : Lebur atau dihapus segala kekhilafan lewat bermaaf maafan
Laburan : Labur atau penuhi jiwa ini dengan jiwa baru, kembali fitrah setelah berpuasa,
berzakat dan meminta maaf kepada sesama. diharapkan jiwa bisa putih bersih seperti
belahan ketupat. lihatlah...daun pembungkusnya yang semula putih kehijauan menjadi
matang coklat setelah digodok dalam jangka waktu yang cukup lama, namun isi ketupat
nampak semakin putih dan bersih.

Semoga kita bisa mengambil i'tibar dari sang Ketupat. Jaga hati dan isi dengan sinar Illahi..

Minggu, 03 Juli 2011

Mliwis Putih di Lereng Gunung Raung

Hawa dingin Lereng Gunung Raung, Banyuwangi begitu menusuk ke pori-pori, suasana sepi namun asri berubah menjadi hangat bahkan memanas karena kedatangan Mliwis Putih yang terbang dari Cluring, Banyuwangi.

Sekelompok Mliwis Putih yang diprakarsai seorang Guru Sekolah Dasar benar-benar totalitas mengusung kebudayaan Banyuwangi untuk menampilkan sebuah kesenian tradisional modern yakni Jaranan Buto, Barongsai dan Macan Putih. seharian penuh mereka bergantian menghibur warga di Lereng Gunung Raung dalam rangka acara sunatan Mirza Raihansyah, keponakanku. entahlah meski tinggal di Bali, namun mencintai kesenian Banyuwangi, mungkin karena darah Banyuwangi mengalir dari Ibunya, makanya bersikeras minta sunatan di tanah Menak Jinggo, Banyuwangi.
Selama ini aku sering lihat jaranan, namun yang aku lihat kali ini betul-betul beda karena mirip lakon wayang orang tapi tidak norak karena model tariannya khas Menak Jinggo dan atribut butonya. Jadi baguslah, salut buat para seniman Banyuwangi. Konon, kelompok jaranan buto ini ada klasifikasikasinya, yakni Level 1, Level 2, Level 3, Lengkap dan Super. khusus yang Super, para butonya pasti yang super besar... jika berdandan sangat mengerikan!! Biasanya penonton yang penakut atau anak kecil minta bedak pemain jaranan biar gak sawanen atau ketakutan, meski ini hanya sugesti orang Jawa saja tapi lebih baik diikuti daripada nanti sawanen beneran.

Sekitar jam 5 sore pertunjukan usai. Kelompok Mliwis Putih kembali terbang pulang kandang. Mentari mulai tenggelam dan hawa dingin lereng Gunung Raung mulai menyerang kembali. Wah...Kopi dan teh panas harus cepat-cepat di sruput ini...karena hanya dalam waktu beberapa menit saja sudah berubah dingin kembali !!

Sabtu, 04 Juni 2011

Sabdo Pandhito Ratu


"Manusia itu manusia
Kaya atau miskin hanyalah lahir
Kita menghargai orang dengan ukuran batin

Sak begja-begjane wong kang lali
isih begjo wong kang tansah eling lan ati-ati"

Jum'at malam kemarin kebetulan saya nonton sebuah acara di salah satu stasiun TV swasta, disana menampilkan Kang Sujiwo Tedjo, seorang seniman multi talenta yang kini menekuni dunia dalang mewarisi bakat ayahandanya. 

Tapi wayang yang ditampilkan lain dari yang lain *konon beliau dianggap keluar dari pakem*  karena ilustrasi dikemas lebih modern namun tak meninggalkan "jowo-nya". Unik karena gamelan tidak hanya yang tradisional tapi digabung dengan peralatan semacam guitar juga sexophone, gambarnya tidak hanya bayangan wayang tapi ada gambar lukisan pastel. Para sindennyapun lebih seperti duta seni saja, begitu piawai menembangkan lagu jawa maupun manca negara. Apapun bentuknya yang pasti pesan moral selalu terkandung di dalamnya.

Ehemmm...kenapa ya saya jadi ingin nulis ini, ya karena saya salut sama Kang Sujiwol Tedjo yang mampu mengemas kebudayaan kita dalam bentuk yang lebih elegan sehingga banyak diminati kaum muda dan tak terkesan monoton, bahkan dalam dialog diselingi bahasa inggris yang tentunya juga bertujuan untuk go internasional. Dengan pengenalan seni budaya semacam ini berharap kekayaan seni dan budaya  negeri ini dikenal lebih luas lagi,  tak dicaploki dan diakui negara lain.

Sebetulnya saya mulai senang lagi berbahasa jawa yang lebih njawani setelah saya berkunjung dan sering ngobrol untuk melatih bahasa di blog kejawen wetan, dan kebetulan sahabat saya di FB yang bukan orang Jawa saja ingin mempelajari filosofi Jawa. So...... sebagai orang Jawa bangga juga tanpa mengecilkan budaya daerah lain lho....!!, ini hanya suatu luapan emosi jiwa tentang pelestarian salah satu budaya negeri kita saja

Selasa, 17 Mei 2011

Sebuah Pesan dari TrunyaN

Kemilau cahaya di  Kintamani tepatnya di Danau Batur membuat hati ingin menjelajah panorama danau indah dimana ada sebuah muara wisata yang cukup terkenal dan tertulis dalam sejarah peradaban negeri kita. TRUNYAN, itulah tujuan selanjutnya.
Yups, meski sudah menjelang jam 3 sore, namun aku nekat saja terus kekeh pingin melihat dekat akan lokasi Trunyan, untuk mencapai lokasi kita harus menggunakan jasa perahu motor yang tersedia di pinggir danau  Batur. Biasanya para calo menawarkan tarif Rp. 250 ribu ~ 300 ribu per perahu PP atau per tujuh orang. Karena "guide" ku yang notabene kakakku sendiri tidak mau ikut, akhirnya aku sharing dengan wisatawan lain dengan harga Rp. 200 ribu per perahu setelah ada kesepakatan.

Hufff...., subhanalloh...Danau Batur begitu indah, alami dan  sejuk pula. Pesona alam yang indah membuat lupa bahwa perjalan ke lokasi yang kurang lebih memakan waktu 20 menit udah hampir tiba. Dan perahu motor sudah mulai dikurangi lajunya, hanya saja yang menjadi heran saya tiba-tiba banyak perahu kecil yang merapat ke perahu kami. Lho ada apa ini...? apakah ini cara penyambutan tiap wisatawan..? begitulah benakku. Namun semakin banyak perahu kecil yang merapat dan seakan menghantam karena bertabrakan, kami ketakutan dan salah satu perahu langsung menodong alias para peminta-minta dengan paksa. aduh...kok kayak Perompak saja to ini..., maksa banget...!!!!

Akhirnya toh kita kasih sekedarnya. Langsung kita merapat ke tebing untuk mencapai lokasi. Waah...ini mungkin satu-satunya makam yang tidak menyeramkan *jika siang, kalo malam yo tetep seremm euy...!!* suatu desa yang dihuni oleh penduduk asli Bali yang memiliki adat pemakaman cukup unik yaitu pemakaman "terbuka" dimana  jenazah dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Konon cekungan itu sendiri terbentuk secara alamiah saat Gunung Agung meletus. Jenazah hanya diletakkan begitu saja diatas cekungan batu dengan hanya dipagari bambu anyam secukupnya. Uniknya, meskipun sudah berhari-hari bahkan sampai tinggal tengkorak, jenazah yang tergeletak tanpa  di"balsem" sama sekali tidak bau. Hal ini karena adanya pohon Taru Menyan di desa ini yang akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Desa Trunyan.

Nah..., yang perlu diwaspadai lagi yakni para Guide di sana, mereka seolah ramah mendampingi kita untuk melihat dan bercerita tentang Trunyan, namun saat pulang, kita akan ditodong untuk bayar uang jasa guide. Mereka tidak akan membiarkan kita pergi sebelum memberikan uang jasa tersebut bahkan sang pemilik perahu seakan disandera tidak boleh berangkat sebelum para penumpangnya membayar mereka. Ini mah Perompak Jilid 2.

Saat terakhir kita mau foto bersama dengan para tengkorak tuh, eeee.....ada lagi yang minta jasa sedekah buat sang model sekitar Rp. 20 ribu. Weleh.... tengkoraknya lho gak apa-apa kok manusianya yang gak rela...ckckckck...ini mah perompak Jilid 3 !!!

Ini hanya sharing saja berdasar penoropongan beberapa tahun yang lalu, berharap pihak Pariwisata di sana bisa memperbaiki kondisi yang tidak nyaman ini. Lebih baik masuk pakai tiket resmi saja tanpa pungli-pungli ya Pak..... >.<


*Sumber gambar dari koper mbah gugel wae gak usah bayar ..^_^









Kamis, 31 Maret 2011

APRIL MOP!

Tak terasa waktu sudah memasuki bulan April , hmm...jadi ingat tabiat-tabiat budaya barat yang mengistilahkan April Mop sebagai kejutan di awal hari bulan April. Kejutan yang biasanya mendebarkan hati entah berita tragis ato yang sangat ekstrim.

Kalo di negara kita neh tanpa menunggu April pun banyak kejutan-kejutan buat rakyatnya..., mulai isyu bom, penculikan sampai tingkah pola para petinggi negara yang kian merajalela. Pembangunan gedung DPR yang wah dan bikin melongo rakyat yang diwakilinya.

Hari ini awal April yang bertepatan dengan Hari Jum'at. Berharap tak ada April Mop di negeri ini dan selayaknya kita menyambut tiap pagi dengan do'a yang baik-baik saja agar Allah memberkahi langkah kita.

Jumat, 04 Maret 2011

Halloween Party in Bali


sepi.....
Yach sepi banget hari ini....padahal nyepi tak disini tapi di Bali!!
Hmmm...meski nyepinya di Bali namun karena hari libur nasional jadinya jalanan pada lengang jarang sekali yang lalu lalang.

Sebetulnya pingin liat Halloween Party in Bali alias Pesta Ogoh Ogoh saat perayaan Hari Raya Nyepi. Tapi sudah telat...hehe *ngeles* ya akhirnya aku tulis saja dah!

Pesta Ogoh Ogoh layaknya Pesta Halloween saja soalnya yang ditampilkan serem-serem semua. Kalo di pesta Halloween pesertanya kita-kita namun kalo Ogoh-Ogoh pesertanya para Buta Kala yang berbentuk patung raksasa.

Saat perayaan nyepi sebelum ritual nyepi sendiri pesta ini digelar seantero Bali. Hampir semua banjar/kampung membuat Ogoh Ogoh untuk diarak lalu dibakar beramai-ramai. Ogoh Ogoh sebagai gambaran Buta Kala yang jahat, culas dan bersifat merusak tatanan juga tuntunan agama. Pembakaran Ogoh Ogoh sebagai wujud perlambang pemusnahan sifat manusia yang seperti Buta....suka membabi buta kejahatannya, sifat-sifat yang kurang terpuji. Jadi semacam pensucian diri yang diikuti dengan ritual nyepi yakni semacam muhasabah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bentuk Ogoh Ogoh tidak boleh sembarangan karena harus mengikuti pakem yang ada, yakni berbentuk Buta Kala dan mengandung pesan moral. Dan ini dibutuhkan kreatifitas tinggi. Kebanyakan yang buat kumpulan anak muda semacam karang taruna.

Ogoh ogoh yang beragam justru menarik wisatawan, banyak yang ingin berfoto dengan Sang Buta Kala sebagai kenangan. Gimana, apa ada kawan yang ingin berfoto pula.....????? ^_^


*photo dari obrak abrik harta karun mbah gugel

Sabtu, 26 Februari 2011

Maaf, Telat...

Kata-kata "Maaf, Telat" sudah tak asing lagi bagi kita-kita kawan blogger sebagai ungkapan maaf karena telat silaturrahim.

Dan rasanya di dunia nyata lebih sering lagi malah lebih parah dengan alasan yang bergam;
maaf, telat ban bocor
ma'af telat macet ada si komo lewat..
Ma'af telat mesin ada trouble
ma'af telat kendaraan mogok
ma'af...
Ma'af....
entah berapa kali kita berucap kata tersebut kepada guru, dosen juga pimpinan. Tapi sesering itukah kita meminta ma'af kepada Tuhan??? Karena saat azdan berkumandang sampai jeda waktu yang ditentukan kita baru memenuhi panggilannya di akhir waktu bahkan hampir ketemu dengan adzan berikutnya???

Tuhan Allah syah Robbul Jalil memang maha luas pengampunannya....sampai berkali-kali waktu panggilaNya kita akhirkan dan bahkan dinomor sekian kan toh Tuhan masih sayang pada hambaNya. Semoga aktifitas kita baik di dunia maya maupun nyata tak melenakan kita hingga melupakan yang utama...dan berucap ma'af telat Maghriban..., Isya'an.....Subuhan.......*maklum kalau lagi blogging juga lupa waktu xixixi....*

Sabtu, 19 Februari 2011

Sumpah Pocong??


Hari gini masihkah ada sumpah pocong...????

Aku pikir sumpah pocong sudah tenggelam membumi seiring menjamurnya pengadilan dan para pengacara yang pandai bersilat lidah di mana-mana. Para pengacara yang kadang lebih tersohor melebihi artis yang jadi kliennya.

Namun sumpah pocong kini muncul lagi bak mumi yang hidup lagi dimana penampakannya tidak hanya sebatas di pengadilan rakyat biasa namun sudah menjamah ranah politik kita. Siapa sangka para anggota legislatifpun ikut menikmati sumpah pocong. Ini hampir digelar di Dewan Legislatif DPRD Pare-Pare, Sulawesi Selatan, terkait kasus dugaan korupsi beberapa anggota dewan. Konon sampai-sampai kain kafan yang digunakan import khusus dari Karbala, Iran....weleh-weleh....???

Hmmm.....sebenarnya sumpah pocong ini tidak ada dalam hukum Islam walaupun dilakukan secara islami. Terdakwa akan diperlakukan bak jenazah yang dikafani dan dipocong lalu disumpah untuk menjawab segala dakwaan dengan sebenar-benarnya di bawah kitab suci Al Qur'an.
Semua ini diharapkan memberikan efek psikologis para pihak yang terdakwa karena konon bila berbohong maka yang bersangkutan akan kena karma atau laknat Tuhan.

Sumpah pocong sendiri kerap dilakukan bila ada suatu sengketa yang tak ada bukti nyata semisal santet, pesugihan, pencurian bahkan sampai hubungan asmara. Jika kini hal yang ada bukti nyata masih mengikuti sumpah pocong, apakah pertanda bahwa hukum di negara kita begitu lemah...? Jeruji besi bisa dibeli....? Sehingga tak lagi percaya pada pak Hakim dan pak Jaksa..dan pada akhirnya minta yang paling amanah yaitu Allah SWT.

Huhhhh......, akankah para koruptor itu enaknya dipocong aja semua yaaaa???? Upsss sory....maksudku di sumpah pocong saja....ahahaha...

Selasa, 15 Februari 2011

GUNUNGAN SEKATEN




Peringatan acara Maulid Nabi Muhammad SAW digelar begitu meriah dimana-mana menenggelamkan gebyar pesona Valentine di kalangan remaja. Kalau ingat perayaan Maulid Nabi ini saya jadi ingat acara Grebeg Maulid yang sering dikenal "Sekaten" di Keraton Jogyakarta. Yach, sampai-sampai tradisi ini sudah membudaya di Yogyakarta dan kerap menjadi daya tarik para wisatawan.


Sejarah grebeg tidak dapat dilepaskan dengan sejarah Wali Songo yakni Sunan Kalijaga. Salah satu metode penyebaran agama islam pada waktu itu adalah dengan pendekatan budaya. Metode ini dipakai karena pada saat itu budaya dan seni bekembang dengan baik. Melalui metode ini, islam disebarkan dengan memasukan berbagai ajaran islam dengan asimilasi dan akulturasi.

Sekaten berasal dari bahasa Arab Syahadatain yang mengandung dua makna kalimat.
Pertama, bersaksi bahwa tak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah.
Kedua, bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Karena saat itu masyarakat masih awam dan susah mengucapkan, akhirnya kata itu menjadi SEKATEN

Gunungan Grebeg atau Rebutan gunungan atau upacara grebeg ini diartikan merupakan simbol komunikasi kultural antara raja dan rakyatnya. Bahwa raja bisa sangat dekat dan memperhatikan rakyatnya (kawulo-nya). Ini ditandai dengan sang raja memberikan sejumlah hasil pertanian untuk rakyatnya. Sebetulnya, dalam tradisi perayaan sekaten ini tak hanya gunungan dan udhik-udhik yang sarat dengan berkah. Namun muncul pula ndok abang (telur yang diwarnai merah) serta kinang. Telur merah ini dipercaya sebagai penolak bala, sedangkan kinang jika dikunyah pas ketika gamelan berbunyi, dipercaya mampu membuat orang awet muda...*hmmm...ada yang mau coba...????*

Kini sekaten menjadi suatu tradisi di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Hal tersebut sesuai dengan salah satu kewajiban seorang Sultan yaitu Sayidin Panata Gama, yaitu pemimpin agama yang berkewajiban menyebarkan agama islam. 

Pesan moral lambang dari Gunungan sekaten adalah diharapkan adanya keseimbangan hubungan kepada Sang Pencipta dan kepada sesama manusia juga alam sekitarnya.

Namun Ruh sakral dari peringatan Sekaten yang sarat dengan pesan moral dan agama kini mulai bergeser pada urusan dunia. Mungkin karena banyak menyedot para wisata sehingga sekarang lebih banyak pagelaran-pagelaran lain semacam bazar dan panggung-panggung musik yang justru membuat orang terlena...lupa makna yang sesungguhnya. Sehingga Sekaten yang seharusnya tuntunan kini hanya bersifat tontonan biasa. Wallahu A'lam....